Sabtu, 21 September 2019
Selamat Datang Mahasiswa Baru Fakultas Teknik TA 2019-2020
Berita
Taman Topi Menuju Taman Kota Oleh: Janthy Triluasianthy Hidajat
Ditulis oleh Admin pada 22-03-2015

Ruang terbuka publik kota adalah ruang yang dapat diakses oleh masyarakat kota secara bebas dimana ruang tersebut  dapat digunakan untuk berbagai kegiatan dan kepentingan masyarakat kota dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi dan budaya  sehingga membentuk suasana interaksi yang hangat, aman, nyaman dan egaliter. Undang-Undang Penataan Ruang mengamanatkan bahwa ruang terbuka publik kota baik hijau maupun non hijau harus disediakan oleh pemerintah didalam peruntukan lahan kota. Oleh karena itu pemerintah kota harus dapat menyediakan ruang terbuka publik dalam bentuk taman kota yaitu taman yang membebaskan penduduk kota dari segala perbedaan sosial, gender dan ras, bukan ruang terbuka publik berupa taman di lahan privat yang hanya dinikmati oleh anggota masyarakat tertentu saja.

Didalam Rencana Pengembangan Ruang Terbuka kota Bogor yang tercantum dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bogor dijelaskan bahwa pemerintah akan menata kembali ruang terbuka hijau dan non hijau yang telah mengalami degradasi secara fungsi maupun kualitas ruang dan mengoptimalkan pemanfaatan ruangnya untuk kegiatan sosialisasi penduduk. Sebagai bentuk pelaksanaan kebijakan tersebut maka saat ini Pemerintah Kota Bogor akan merubah  Taman Topi menjadi Taman Kota yang berfungsi sebagai ruang terbuka publik bagi masyarakat Bogor. Taman Topi dengan luas 1,8 hektare, saat ini keberadaan dinilai tidak maksimal dalam memberikan manfaat kepada masyarakat dengan kondisi taman yang makin tidak terurus sehingga mengalami penurunan fungsi dan kualitas ruangnya. Melihat kondisi ini sudah selayaknya taman ini untuk ditata ulang dan diberi fungsi baru agar dapat  meningkatkan perannya di kota Bogor. Dengan demikian keputusan pemerintah kota Bogor untuk menjadikan Taman Topi sebagai Taman Kota yang akan menjadi ruang publik bagi masyarakat kota Bogor dinilai sangat tepat.

Melihat sejarah kota-kota lama yang terbentuk pada masa kolonial pasti memiliki Masjid Agung dan alun-alun dimana alun-alun ini merupakan ruang terbuka publik tempat warga berinteraksi menghabiskan waktunya. Kota Bogor  sebagai kota yang terbentuk pada masa kolonial memiliki ciri seperti ini dimana kenangan ini telah hilang, untuk itu dengan adanya rencana  merubah taman topi menjadi taman kota maka diharapkan keadaan masa lalu yaitu ada keterkaitan antara mesjid agung dan ruang terbuka publik akan terbentuk kembali ditambah dengan keberadaan stasiun kereta api dan bangunan-bangunan lama disekitarnya yang akan mendukung keadaan tersebut.  Agar supaya taman kota Bogor ex taman topi ini dalam pengembangannya sebagai ruang terbuka publik dinilai  berhasil maka interaksi sosial masyarakat di taman tersebut harus dapat berlangsung dengan baik begitu pula dengan bangunan sekitarnya. Untuk tercapainya hal ini maka kriteria yang harus dipenuhi oleh taman kota eks taman topi ini adalah pertama, dikembangkan sebagai ikon kota karena berdasarkan sejarahnya ruang terbuka publik ini adalah pusat aktivitas masyarakat dan akan membentuk suatu identitas kota; kedua, memiliki daya tarik tertentu yang akan memikat masyarakat dan menjadikan tujuan untuk beraktivitas di tempat ini; ketiga, memiliki bentuk ketenangan yang akan membuat merasa nyaman bagi orang yang berada dan beraktivitas di tempat ini; keempat, memiliki desain yang fleksibel dalam arti ruang terbuka publik ini dapat digunakan sepanjang hari dari pagi, siang dan malam serta kondisi musim yang terjadi; kelima, memiliki kedekatan dan kemantapan aksesibilitas, mudah dijangkau oleh masyarakat.

Terpenuhinya kelima kriteria tersebut diatas maka selanjutnya adalah jangan sampai Taman Kota eks Taman Topi ini menjadi ruang terbuka publik yang sepi hanya untuk enak dipandang tapi tidak untuk digunakan masyarakat atau dirusak oleh masyarakat itu sendiri untuk itu diperlukan design dan manajemen yang baik. Pertimbangan-pertimbangan untuk mengatasi keadaan diatas adalah pertama, menyediakan tempat duduk atau istirahat yang memadai, minimnya tempat duduk membuat orang cenderung bertindak sesukanya untuk memperoleh kenyamanan selain itu alternatif lain harus disediakan seperti pilihan untuk duduk  hamparan rumput; kedua,  ruang publik menyediakan berbagai ruang untuk pilihan beraktivitas  dan memaksa orang untuk melakukan aktivitas tersebut ditempat yang tersedia bukan dpaa tempat-tempat yang tidak diperbolehkan; ketiga, akses merupakan hal yang sangat penting bagi ruang terbuka publik, jika suatu ruang dapat digunakan maka orang harus dapat melihat dan tersedia jalan untuk memasukinya, oleh karena itu jalan masuk ke wilayah taman harus dirancang sedemikian rupa sehingga peletakan unsur-unsur taman dan interior taman dapat terlihat jelas dari bagian luar taman; keempat, seringkali sejumlah fitur dirancang untuk menunjukkan kekhasan suatu ruang dan cenderung hanya untuk visualisasi semata, hal ini tidak boleh terjadi seharusnya fitur-fitur khas yang ada dapat merangsang tumbuhnya aktivitas di tempat tersebut; kelima, menyediakan jalan setapak yang tidak berliku-liku tetapi tetap menarik orang untuk melewatinya dan dapat berhenti serta beristirahat sejenak; keenam, ruang publik ini harus menyediakan sarana sarana yang membuat pengguna dapat melakukan dengan mudah, aman dan nyaman seperti orang yang akan menuju ke taman tersebut tidak takut untuk menyebarang jalan maka disediakan sarana penyebrangan, tidak takut untuk memarkir mobil maka disediakan tempat parkir aman, tempat perhentian angkutan umum yang tertib dan mudah dijangkau; dan terakhir ketujuh, area disekeliling ruang publik tersebut mempengaruhi keberhasilan penyediaan ruang publik tersebut, sehingga keberadaan mesjid agung, stasiun, perkantoran serta bangunan komersial lainnya harus dikaitkan dalam desain dan manajemen taman kota.

  Dalam penyiapan perancangan taman kota eks taman topi sebagai ruang terbuka publik masyarakat kota Bogor, Pemerintah Kota Bogor telah mengadakan sayembara yang diikuti para ahli yang berkompeten di bidangnya pada Mei dan Juni 2010 tahun lalu. Ini merupakan suatu langkah yang sangat baik dan keseriusan Pemerintah Kota Bogor untuk mendapatkan desain taman kota yang terbaik dengan memperhatikan potensi, masalah dan kaidah-kaidah desain suatu taman kota  serta dapat dikatakan bahwa hasil rancangan ini merupakan aspirasi dari masyarakatnya. Walaupun demikian sosialisasi hasil rancangan taman kota yang terpilih tetap diperlukan sehingga masyarakat luas dapat mengetahui, memahami dan akan timbul rasa memiliki juga kebanggaan terhadap rancangan tersebut yang pada selanjutnya akan memuluskan dalam pembangunan dan keberlanjutan keberadaan taman kota tersebut.

Pemerintah Kota Bogor harus menjadi aktor yang sangat penting dalam keberlanjutan pembangunan taman kota ini. Pemerintah harus bersedia mendengarkan apa sebetulnya yang dibutuhkan oleh masyarakat, membuka terhadap kritik dan saran masyarakat terhadap rancangan taman kota ini dan menghindari adanya konflik penggunaan sumberdaya ruang kota publik yang memang terasa menjadi semakin terbatas. 

Oleh:

Dr. Ir Janthy Triluasianthy Hidajat, M.Si

Wakil Dekan 1 Bidang Akademik Fakultas Teknik Universitas Pakuan

(Artikel ini sudah terbit dalam kolom GAGASAN koran RADAR BOGOR pada hari Senin tanggal 24 Januari 2011)



Sambutan Dekan

Terima kasih telah mengunjungi website kami.

Fakultas Teknik – Universitas Pakuan didirikan pada tahun 1981, dengan tujuan untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan yang terjangkau masyarakat tetapi tetap menjaga ...

Informasi



Copyright @ FT UNPAK 2014 Developed by FT UNPAK